Kisah Berkisah

Di mana?

IMG_20180106_095923.jpg

Jadi sebuah pilihan bagaimana kita memaknai kehadiran kita dalam ruang Semesta yang begitu luas. Kita bisa memilih hadir begitu saja dan menjalani semuanya dengan ringan bahwa hidup ya ini… begini ini… lahir, besar, menikah, punya anak, punya cucu, lalu mati. Ringan dalam konteks besar ya… bukan berarti ringan menjalaninya tapi yang pasti, hidupnya ya ga rumit-rumit, jalananin proses hidup. Inilah seharusnya hidup.

Lalu muncullah segelintir orang yang mencoba memaknai bagaimana hidup itu sendiri. Mempertanyakan banyak hal atas semua yang dihadirkan. Bukan untuk menolak tapi lebih memaknai kehadiran setiap proses itu sendiri. Dan katanya kalau dilihat dari luar kaya orang ribet banget. Semua dipikirkan, semua dibahas sampai ke detail-detailnya agar hidup ini lebih punya makna dan tak tentu saja agar tak sia-sia.

Aku di mana?

Aku ada dibagian yang katanya milih hidup dengan rumit. Memikirkan setiap hal dan mencoba membaca makna dari setiap proses yang ada. Kaku? Rasanya sih nggak. Ini aku lakukan untuk lebih memahami “ngapain sih aku hidup?” Hal itulah yang sebetulnya mendasari semuanya. Kadang ada juga sih saat-saat merasa bahwa aku ‘to much thingking’ atas semuanya. Menelaah setiap langkah, menyiapkan diri sedemikian rupa, lalu lupa untuk menikmati. Namun, itulah proses yang aku harus jalani hingga bertemu pada titik ini. Titik di mana telaah, memaknai dan menyusun strategi dihadirkan sebagai sebuah kesadaran namun bukan sebuah kemutlakan bahwa akan sesuai dengan harapan. Harapan hanya milik kita namun rencana Semesta tentu lebih lengkap.

Di sisi lain, ada masa-masa aku berpikir bahwa ‘enak ya jadi orang kebanyakan’. Hidup ya jalan begitu saja. Lahir, besar, menikah, punya anak, dll. Ga rumit mikir kemana-mana. Tapi… trus tersadar, itu judmentku atas orang lain. Jangan bilang bahwa orang lain yang katanya ‘orang kebanyakan’ itu terasa lebih ringan, jangan gegabah ngambil sudut pandang itu, toh aku tidak pernah mengalaminya. Aku punya kuasa apa sampai berani menilai orang lain berikut proses yang mereka jalani? Aku akhirnya hanya bisa menyadari bahwa ruang pandang saja yang berlainan dan bisa jadi mereka yang di luar kita melihat dengan cara yang berbeda.

Kini, aku hanya menaruh diriku pada hal yang aku yakini dan memang menjadi prosesku saat ini. Berbekal kesadaran pada titik ini, aku mencoba hidup dengan apa adanya. Hanya berpegang pada satu prinsip, “aku tidak ingin hidup menyusahkan orang lain”. Hal inilah yang terus aku asah dalam keseharian. Menyadari setiap hal dari banyak sudut bahwa semua yang diambil tidak merugikan orang lain. Mensyukuri setiap hal yang dihadirkan Semesta buatku dengan membuka telapak tangan ini lebar-lebar agar setiap berkatNya bisa mengalir dalam diriku. Semoga ini bisa terus aku jalani dengan penuh kesadaran diri. Pada proses diriku pribadi. Tanpa pembanding, tanpa menilai orang lain.

Semesta Memberkati.

 

Advertisements
Kisah Berkisah

Narasi Diri

Mari bercerita. Mari mencatat yang ada dalam kepala atau yang bergulir dalam ruang rasa. Jangan biarkan semuanya tertinggal dalam ruang terdalam dan akhirnya sulit kau uraikan.

Biarkan jari bergerak, menuangkan tinta pada kertas. Menari dalam lekukan huruf yang terangkai menjadi sebuah kisah masa kini, masa silam atau mimpi-mimpi indah tentang masa depan.

Lihatlah… energi dari rasa dan pikiranmu mengalir dalam lekuk huruf, dalam barisan kata dan mewujud narasi hidup itu sendiri.

Rabalah dadamu, sentuh kepalamu, ada yang kau lepaskan dari situ. Mengalir pelan dalam goresan yang tertuang lembaran kertas yang kau gunakan. Mewujud sejarah. Mewujud jejak. Mewujud dirimu sendiri di dalamnya.

Mari… bangunlah sebuah ruang narasi diri. Jauhkan semua ekspektasi bahwa semua hal harus punya arti. Tuangkan saja semua hanya untuk diri dan mengalirkan energi yang seharusnya dibagi.