Posted in Kisah Berkisah

Penghujung 2020


Tahun ini Semesta memberikan banyak hal yang terkadang membuatku harus bergelut memahaminya lebih dalam. Keyakinan bahwa semua yang dihadirkan memang hal terbaik buatku dan tentu saja mampu aku hadapi jadi mantra tersendiri yang membuatku bertahan hingga saat ini.

Aku memang tak pernah menaruh keinginan ataupun target atas hidup yang aku jalani. Pun di awal 2020. Aku mencoba menjalani semua yang dihadirkan dengan kesadaran. Mensyukuri apa yang aku miliki dan aku dapatkan. Hingga aku bertemu era di mana banyak hal terasa menghantam begitu dalam. Dan aku menghadapi satu momen yang membuatku limbung dan kehilangan kemampuan mengungkapkan rasa yang ada dalam dada.

Bulan-bulan awal 2020, aku menikmati dengan sukacita hal-hal yang baru saja aku tekuni, hingga Maret yang membuat semua orang harus menjaga dirinya masing-masing. Aku menerimanya dan berdamai dengan rutin baru dalam kondisi yang terkadang membuat emosi naik turun. Hingga aku bertemu bulan lahirku.

Mei. Bulan itu tak akan lagi sama buatku. Bulan yang merupakan bulan kelahiranku dan kini jadi bulan pengingat saat Apih berpulang. Ya… inilah puncak dari segala puncak di tahun 2020 buatku. Satu hari menjelang ulang tahunku yang ke-40, Apih berpulang dan aku mengantarkannya ke tempat terakhir di hari ulang tahunku. Mei buatku tidak akan pernah sama lagi.

Proses kehilangan ini ternyata menerpaku dengan cara yang tak pernah aku kira. Kedekatan kami membuat aku tiba-tiba bisu untuk mengungkap rasa. Semua hanya terpendam dalam dada dan sesekali terurai dalam badai yang hadir begitu saja tanpa bisa dikira. Dan seperti biasa, aku menyimpan sakit, rinduku pada Apih dalam diam. Dalam dada yang terasa sesak dalam panas mata yang kutahan agar tak meneteskan air mata. Aku berduka dalam diam.

Apakah semuanya telah aku lewati? Tentu saja belum usai. Perjalananku masih begitu panjang. Badai-badai kecil dan terkadang besar masih seringkali menyambangiku dan aku berusaha mengurainya perlahan dengan banyak cara. Namun terlepas dari kesulitanku mengungkap, ada orang-orang terdekat yang selalu hadir buat memberi peluk. Buatku, peluk adalah bahasa rasa yang bisa membuatku sedikit menarik napas lebih panjang.

Tahun ini sepertinya tahun di mana aku mengantar orang-orang terdekatku. November, adikku akhirnya menikah. Pernikahan yang telah lama direncanakan namun baru terealisasikan. Apa peranku? Aku mengantarnya menuju hari itu dengan segala polemiknya. Namun, Semesta memang memberikan semuanya dengan lengkap. Semuanya hadir pada saat yang tepat dan aku berbahagia atas proses adikku.

Semua proses yang aku jalani memang terasa berat. Kesadaran untuk menerima semuanya yang akhirnya membuatku tetap ‘waras’. Masih banyak hal yang perlu aku benahi. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Di balik semua proses yang tak mudah itu, syukur selalu aku ucapkan atas orang-orang yang hadir buatku, atas semua berkat yang diberikan untukku. Terima kasih… terima kasih… Semesta.

Posted in Kisah Berkisah

Lenyap Tak Bersisa

Apa yang harus dihadirkan isi kepala saat melihat Bumi tempat kita dipijak begitu terluka

Asap merajalela, kini gempa pun menimpa dan di ujung sana luka dan darah di mana-mana

Haruskan aku menutup mata, meski hal itulah yang rasanya ingin aku lakukan saat ini juga?

Dan di dekat mata, sejauh jangkauan mata dan telinga pemerintah mulai membutakan mata dan menulikan telinga

Aku ingin berteriak

Namun yang tersisa hanya air mata dan sesak menghantam dada

Akan di bawa kemana negara kita?

Saat percaya lenyap tanpa sisa